Powered By Blogger

Rabu, 21 Oktober 2015

Derai Hitam Bumi Suriah



😭DERAI HITAM BUMI SURIA😭

BY: Yeyen Idham Syarif

Langit di kota Aleppo begitu hitam dan terlihat penuh luka ku pandang. Aku dan Abangku Omar Al-Ansaari menuju salah satu sekolah yang terletak tidak jauh dari rumahku. Tangan halus Omar menggenggam erat tanganku. Sejenak ia menoleh ke arahku dan tersenyum. Dia Abang yang sangat baik untukku. Aku sangat bersyukur memilikinya. Selain kasih sayang yang ia berikan padaku. Dia yang sudah hafal 30 juz Quran, tidak jarang mengajari ku cara menghafal Quran dengan cepat dan benar. Omar yang berumur 15 tahun itu selalu perhatian padaku. Aku sangat menyayanginya. Namun ada kesedihan di hatiku, di kala ingat masa yang sangat menyayat hatiku. Saat itu aku dan Omar berlari mencoba menyelamatkan diri dari kejaran tentara pembantai yang tidak kami tahu dari mana asalnya. Dan apa niatnya pada kami. Kami lihat darah sudah membanjiri bumi Allah, bumi Suriah tercinta. Kami terus berlari dan berlari, tangan omar sangat erat menggenggam tanganku. Sambil menggandeng tanganku, Omar terus bertakbir. Aku pun mengikuti apa yang ia ucapkan.

Sama sepert biasanya, kadang ia menoleh ke arahku tersenyum dengan senyuman yang sangat indah. Melihat senyumnya itu, rasa takut ku hilang. Kami bersembunyi di suatu bangunan tua yang sudah di penuhi darah dan jenazah mereka yang sudah terbunuh oleh tangan- tangan ke murkaan  itu, alangkah sakit nya hatiku dan Omar. Kala melihat seorang wanita yang melihat ke arahku dan omar. Aku ingin menjerit, karena tidak tahan dan tidak percaya dengan yang kami lihat. Namun sepertinya Omar menyadari hingga ia membungkam mulut ku dengan tangannya. Bathin ku memanggil wanita cantik itu." Bu... Ibu...! Mengapa engkau berbaring disana? Apa yang sebenarnya terjadi pada Mu?" Sepertinya Ibuku mendengar isi hatiku. Matanya berbinar menatapku, jari telunjuk nya ia letakkan di bibir nya, mengisyaratkan ku untuk tetap diam dan tenang. Tak jauh dari ibu, kami pun melihat Ayahku yang merupakan seorang guru hebat di salah satu sekolah di Aleppo. Kami lihat, beliau sudah tidak bernyawa, tubuhnya berlumuran darah. Aku dan Omar hanya bisa manahan tangis. Omar merangkul ku. Tak lama kami lihat Ibu pun sudah pergi menghadap Ilahi. Lengkap lah tangisan ku dan Omar.

Tentara itu sudah hampir mendekati kami. Dalam persembunyian, kami sedang  berusaha tenang agar mereka tidak menyadari keberadaan kami. Salah satu dari mereka memasuki bangun itu. Ku dengar dari luar.
"Apa yang kamu lakukan di sana? Mereka tidak mungkin ada disana. Kita cari mereka ditempat lain." Ucap seseorang dari luar.
"Aku hanya mencoba mengecek di sini. Mungkin saja mereka bersembunyi disini."
"Tidak mungkin,  tadi aku melihat mereka berlari kearah sana. Ayo kita cepat kejar dan habisi mereka." Tegas orang itu dari luar. Pria yang hampir mendekati kami tersebut melangkah pergi keluar. Mereka pun berlari menjauhi bangunan tua. Setelah mereka menjauh dan menghilang dari pandangan kami. Dengan di hantui rasa takut dan kesedihan sangat dalam. Kami mendekati jasad Ibu. Kami peluk beliau yang sudah pergi, aku cium pipinya. Ku lihat Omar mencium kakinya, kemudian ku ikuti apa yang Omar lakukan.
Ini akan menjadi pelukan terakhir untuk beliau, aku tidak akan merasakan kehangatan pelukan nya lagi.
Setelah itu, kami mendekati jasad Ayah.
" Ayah.… Ayah.… Kenapa kamu pergi? Bagaimana aku dan Ali? Kalian pergi meninggalkan kami. Ayah, aku mencintaimu." Kata Omar dengan tangis yang terisak. Aku peluk tubuh nya yang sudah berlumur darah itu.
"Ayah, aku juga sangat mencintaimu. Aku janji akan mendengar apa kata Abang. Aku tidak akan nakal." Janjiku pada Ayah.

Setelah menangisi dan memeluk jasad Ayah dan Ibu. Kami pergi meninggalkan tempat itu, sebenarnya kami ingin sekali mengubur jasad Ayah dan Ibu. Namun, kami takut akan ketahuan oleh pembantai kejam itu. Kami berjalan menuju masjid Agung Aleppo. Disana sudah banyak orang yang memadati masjid tersebut. Aku ingin melangkah masuk kedalam Masjid. Tapi Omar mencegah ku. Aku tidak mengerti mengapa ia mencegah ku. Bukankah tempat itu akan aman untuk kami bersembunyi. Tapi Omar tetap melarang ku dan mengajakku pulang kerumah. Di perjalanan menuju rumah aku bertanya padanya.
"Wahai Omar, apa yg membuat mu melarang ku masuk ke dalam Masjid? Bukankah tempat itu lebih aman?" Tanyaku padanya.
"Kamu salah, tempat itu tidak aman untuk kita." Jawab Omar dengan wajah penuh amarah. Sepertinya Omar tahu siapa yang ada di balik perkara besar ini.
"Dengarkan aku, kita kembali hanya untuk sementara. Mengambil apa yang kita perlukan. Setelah itu kita tinggalkan kota ini." Jelas Omar padaku.
"Lalu kemana kita akan pergi wahai Omar?"
"Kita akan pergi ke tempat yang lebih aman dari kota ini."
"Omar bagaimana kalau kita pergi kerumah Safir lagi. Kita ajak dia pergi dari sini bersama kita." Omar menghentikan langkahnya, seraya berpikir.
"Baiklah!" Ucapnya padaku.

Hari sudah hampir senja dan memerah. Terlihat wajah Ibu dan Ayah di langit itu. Biasanya di waktu ini kami sedang berkumpul dirumah. Omar sedang menguji hafalanku, Ayah sedang sibuk dengan bukunya sedangkan Ibu sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Hari ini, semua tidak lagi ku rasa. Bahkan aku tidak akan menemukan kebahagiaan itu lagi.

Setibanya kami dirumah Safir, rumahnya tertutup. Kami tidak melihat seorang pun di rumahnya. Lingkungan itu terlihat Sepih tiada penghuni. Aku ingin memanggil Safir. Namun, Omar kembali membungkam mulut ku.
"Jangan kau panggil, safir sudah pergi. " Kata Omar padaku.
"Apa maksudmu?"
Dia menunjuk kearah sebuah mobil yang di sampingnya ada jasad Safir dan kedua sahabat ku yang lain. Tersayat aku melihatnya lagi. Padahal baru pagi tadi kami bersua. Hanya hitungan jam dia sudah tiada. Belum sempat aku meratapi kepergian sahabat-sahabatku. Omar kembali menarik tanganku.
"Kita harus cepat meninggal kan tempat ini. Kita tidak bisa pulang kerumah. Aku rasa tidak aman." Jelas Omar.

Kami pun berjalan menuju tempat yang Omar maksud. Kami tiba di sekolahan tempat yang juga sudah di penuhi banyak orang. Kami menghampiri orang-orang itu. Semua orang sipil yang hendak mengungsi entah kemana. Dari jauh suara mobil bersenjata menuju tempat kami berada. Mereka menghujani kami dengan peluru bahkan dengan granat yang mencerai beraikan kami.
Omar menarik ku keluar dari serangan mereka. Namun salah satu granat menghantam ke arah ku dan omar. Semua debu menghujani ku. Mataku hampir tertutup debu-debu itu. Aku mencari keberadaan Omar. Kulihat Omar terbaring tak berdaya.
"Omar apa yang terjadi dengan mu? Ayo cepat berdiri, kita tinggalkan tempat ini." Ajakku padanya dengan air mata tertumpah membanjiri wajahku.
"Aku tidak bisa, aku tidak bisa."
"Apa maksudmu? Aku akan membantu mu, ayo kita berdiri. Ku singkirkan jasad sekarang pria yang menutupi kaki Omar. Aku benar-benar tersentak. Kulihat kaki Omar berlumuran darah. Ia kehilangan kedua kakinya. Kedua kakinya putus karena granat yang zionis itu arahkan pada kami. Beberapa zionis itu mendekati kami. Dan mengarahkan senjatanya pada ku dan Omar. Aku sudah pasrah dan ikhlas. Asal aku bisa terus bersama Omar. Mungkin aku sudah bisa bertemu Ayah dan Ibu.

Tatapan nanar pembunuh itu membuatku tak Takut. Begitu pun Omar. Kami sudah siap untuk syahid. Pria Itu sudah siap untuk menebak kami. Ketika ia hendak menembak, dari kejauhan ada beberapa pejuang yang menembak ke arahnya dan ia pun tersungkur dan tiada. Mujahidin itu mendekat ke arah ku dan Omar. Beliau segera mengangkat tubuh Omar, dan membawanya kedalam mobil yang mereka bawa. Aku merasa tenang, karena aku mengenal Pria tersebut. Beliau adalah Abu Sulaiman Al Bashirah sahabat baik Ayahku. Beliau seorang pendakwah yang sangat di kagumi di Aleppo. Beliau membawa Omar menuju rumah sakit.

Setibanya kami dirumah sakit, Beliau meminta Dokter untuk menangani Omar. Dengan sigap Dokter mengambil tindakan. Paman Abu Sulaiman memeluk ku yang masih berumur 8 tahun ini. Pelukan nya mendamaikan ku, aku merasa tenang sekarang.
Beberapa jam kemudian, Omar sudah selesai dirawat. Kulihat kakinya yang di balut perban putih. Aku memeluknya, aku menangis di pelukan nya. Hingga tangisan ku membuat nya terbangun dari tidurnya.
"Ali... Jangan menangis. Kamu harus sabar, Allah mencintai hamba-Nya yang sabar." Dia pun membacakan beberapa surah Quran padaku.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkan lah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwa lah kepada Allah, supaya kalian beruntung.” (Ali Imran: 200)

Aku hanya bisa menangis sambil menggenggam tangan nya. Entah mengapa wajahnya bersinar terang. Ia terlihat tampan dan sangat bercahaya. Ia melanjutkan bacaan nya.

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ

“Maka bersabarlah kamu seperti kesabaran orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari kalangan rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (al-Ahqaf: 35)

Mata Omar berkaca-kaca, lirih ia berucap padaku.
"Ali, kamu tahukan aku sangat menyayangi mu. Kamu harus kuat, semua ini akan berakhir. Cepat atau lambat kita akan bertemu dengan Ayah dan Ibu. Ada tempat yang lebih indah dari pada tempat ini. Janji-Nya pasti." Nasihatnya padaku. Omar kembali melantunkan bacaan Quran nya.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. (QS. An-Nuur: 55). 

Setelah melantunkan Firman Allah tersebut, ia terdiam. Wangi tubuhnya semerbak ku cium, senyumnya terpancar saat ku pandang. Air mataku tertahan. Aku ingin menjerit tapi aku tidak bisa. Aku sudah berjanji padanya untuk sabar dan Ikhlas. Seperti yang Omar katakan, Allah akan menepati janji-Nya. Kembali ku peluk tubuh Abang yang sangat menyayangi ku itu.

Paman Sulaiman, memeluk ku. Beliau tahu aku sendirian sekarang. Tapi aku tidak takut, aku punya mereka yang berjuang di jalan Allah. Terutama aku punya Allah yang selalu ada.

Aleppo Suriah, 2015

Sudah tiga tahun aku menjadi yatim piatu, aku hidup bersama keluarga Paman  Sulaiman. Sedangkan paman, sibuk berjihad dijalan Allah. Semua Kota Suriah sudah semakin menghitam. Tangis, darah, bahkan kematian sudah tertimbun di kebiadaban mereka yang tidak bertanggung jawab. Entah apa tujuan mereka. Disisi lain banyak pihak yang memporak porandakan warga suriah. Semua warga mengungsi keluar Suriah. Aku masih menetap di Negeri ini. Sampai tetes darah penghabisan ku, aku tidak akan meninggalkan Negeri ku ini. Negeri bersejarah dan Negeri para Rasul Allah.

Seperti tiga tahun yang lalu, langit putih terhampar bersama kemegahan nya. Semua awan ber arak  mengikuti takdir-Nya. Belum puas aku menatap kemegahan nya. Beberapa pesawat tempur Russia berdatangan dan membanjiri tanah Aleppo dengan peluru mereka. Semua panik, warga berjatuhan. Semua rumah di Aleppo rata hampir tak tersisa. Aku berlari sambil menggendong Aisyah putri paman Sulaiman menjauhi hujan peluru dan bom itu. Namun sayang aku tidak bisa menyalamat kan bibi Zulaikah istri paman, Beliau sudah lebih dulu tertimbun reruntuhan rumah warga.

Kembali aku merasakan kelukaan. Bibi sangat baik padaku. Wanita penuh kelembutan itu pergi menghadap Ilahi. Beberapa menit kemudian Paman datang, mengambil Aisyah dari pelukan ku. Dengan erat ia peluk putrinya itu. Kemudian ia pun memeluk ku.

Beliau segera menghampiri jasad bibi yang sudah dikeluarkan oleh tim penyelamat. Aku merasakan kelukaan yang beliau rasakan. Karena aku pun pernah merasakan nya.

***
Hari demi hari kami lalui dengan kegetiran dan kepanikan. Semua ini tidak akan berhenti sebelum mereka sadar akan kesalahan mereka.

Kulihat Aisyah sedang bermain. Aisyah yang baru berumur 3 tahun itu terlihat lucu. Aku sangat menyayanginya. Tatapan ku tidak beralih darinya, sampai kulihat pesawat tempur Russia kembali datang dan menghujani kami lagi. Dari kejauhan Paman Sulaiman melihat dan berusaha menyelamatkan Aisyah namun sayang, Paman pun Syahid dengan luka bakar yang sangat serius.

Tinggalah sekarang Aisyah bersamaku. Kami dibuat menjadi  yatim piatu oleh manusia buta mata hati itu. Ku peluk Aisyah yang sedang menangis karena lapar. Bukan hanya kami, banyak anak-anak yang lain kelaparan.

Ketika pagi menyapa, ku dapati tubuh Aisyah panas dan menggigil. Aku selalu memanggil-manggil namanya. Aku segera melarikan nya kerumah sakit, setibanya dirumah sakit. Kulihat Aisyah sudah tak bernafas lagi.
"Oh, adikku sayang. Kamu pasti menahan lapar dan haus yang amat sangat. Maaf kan Abang sayang." Rintihku dalam hati.

***
Aku hanya memandangi makam Aisyah yang berada disamping makam Omar. Dua saudara yang ku sayang. Kalian begitu cepat meninggalkan ku di bumi hitam ini. Bagaiman hari-hari ku tanpa kalian disini. Aku menatap langit yang semakin menghitam karena asap dari letupan-letupan bom.

Aku menemui salah satu pejuang Islam yang merupakan sahabat Paman Sulaiman. Aku meminta beliau agar mengikut sertakan ku dalam jihad. Namun ia menolak, karena umurku masih sangat belia. Beliau menyuruh ku hanya untuk latihan. Namun aku tidak boleh terjun ke medan jihad.

Setiap hari, tiap malam aku bermunajat pada Allah. Agar aku diberi kekuatan dan kesabaran seperti apa yang pernah Omar katakan padaku. Malam semakin dingin, kami hanya tertidur di reruntuhan. Dengan selimut tipis berkasur dan berbantal kan bebatuan.

Aku tidak bisa menutup mataku. Aku hanya memandangi lagit yang sudah menghitam. Entah mengapa setiap ku pandangi langit-Nya, seakan ku lihat wajah-wajah mereka yang ku cintai. Terasa damai akan menjemput. Gemuruh letupan kembali terdengar, belum sempat ku bangunkan tubuhku. Sesuatu menimpa tubuhku, ku rasakan sakit yang sangat amat. Hingga Beberapa orang mengangkat tubuhku yang sudah berlumur darah menuju rumah sakit terdekat.

"Wahai Omar, inikah kesabaran yang kau ucapkan padaku? Aku benar-benar merasakan nikmat sabar itu. Aku tidak mengeluh dengan Nya. Sekarang aku sudah seperti mu, sudah hafal 30 juz. Aku sudah mengerti arti kesabaran dan keikhlasan. Aku sudah siap untuk menghadap pada-Nya." Ucapku dalam hati. Suara Dokter dan beberapa orang yang berniat membantu ku tidak begitu kudengar jelas. Namun aku melihat suatu cahaya menghampiri ku. Wajah tampan dan wangi yang begitu semerbak yang tidak akan ku temui dimuka bumi ini sedang menghampiri ku. Ia tersenyum padaku, mengajak ku pergi meninggalkan Dunia yang kehausan ini. Ia mengulurkan tangannya, begitupun dengan ku, ku ulurkan tanganku dengan kebahagiaan yang menyertaiku. Ia mengajakku ketempat yang indah yang Allah pernah janjikan. Selamat tinggal Dunia, selamat tinggal kelukaan.

THE END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar